Resensi Buku Animal Farm; Tirani dalam Balutan Revolusi

Foto by: Banala/"Buku Animal Farm karya George Orwell"



SiloLangiNews-Palu. Di tahun kemarin penulis membaca buku ini: Animal farm, sebuah buku alegori politik yang dikemas dengan apik dalam bentuk cerita layaknya Fabel. Kemudian penulis tergerak hatinya untuk membuat sebuah resensi karena sosok Napoleon yang jadi fokus utama runtuhnya Republik binatangisme pada buku ini sedang mencerminkan pemimpin negara Indonesia dengan segala kedikatorannya.



George Orwell penulis dari buku Animal Farm adalah nama pena untuk Eric Arthur Blair, ia adalah seorang novelis, penulis esai, jurnalis, dan kritikus Inggris. Buku ini pertama kali diterbitkan di Inggris pada 17 Agustus 1945, tepat pada hari kemerdekaan Negeri kita Indonesia. "Animal Farm" karya George Orwell bukan sekadar sebuah cerita tentang hewan yang memberontak; buku ini adalah cermin tajam dari realitas sosial dan politik yang sering kali terabaikan. Dalam dunia yang dipenuhi dengan ketidakadilan, penindasan, dan korupsi, buku ini memberikan suara kepada mereka yang tertindas;hewan-hewan di peternakan yang berjuang untuk kebebasan mereka. 



Orwell mengajak pembaca untuk merenungkan bagaimana kekuasaan dapat merusak niat baik dan menciptakan ketidaksetaraan. Melalui alegori yang kuat ini, ia menunjukkan bahwa perjuangan untuk keadilan sering kali berujung pada pengkhianatan idealisme awal. 



Sebagai warga negara yang sedang merasakan gelapnya Indonesia, kita menyadari bahwa cerita ini sedang relevan dengan keadaan yang ada di Indonesia saat ini. "Animal Farm" mengingatkan kita akan pentingnya tetap kritis terhadap pemimpin dan sistem yang ada. Ketika suara rakyat diabaikan dan kekuasaan terpusat pada segelintir orang, kita harus bersiap untuk melawan dan memperjuangkan prinsip-prinsip keadilan dan kesetaraan. Karya ini mengajak kita untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku dalam perjuangan melawan segala bentuk penindasan yang terjadi di masyarakat kita. Dalam kenyatannya, bahwa Indonesia telah memperlihatkan sosok pemimpin negara telah melakukan tindakan-tindakan yang memukul masyarakatnya secara tidak langsung, dengan sistem kepemimpinan yang berjalan tidak sesuai jalur kemerdekaan.



Cerita ini dimulai di sebuah Peternakan Manor, di mana Mr. Jones, sang pemilik, benar-benar mengabaikan hewan-hewan. Dalam suasana yang penuh ketidakpuasan, seekor babi tua Bernama Old Major mengajak mereka untuk bermimpi tentang kebebasan dan kesetaraan. Mimpinya membangkitkan semangat revolusi di hati para hewan, dan mereka berjanji untuk berjuang demi masa depan yang lebih baik. 



Alhasil dengan semangat revolusi itu mereka menggulingkan Mr. Jones dengan dipersenjatakan keberanian, kemudian hewan-hewan merayakan kemenangan mereka dan menetapkan "Tujuh Perintah" yang menegaskan bahwa semua hewan setara. Namun, masalah mulai muncul ketika dua babi, Napoleon dan Snowball, berebut kekuasaan. Napoleon, yang lebih ambisius dan licik, mengusir Snowball dan mulai memanipulasi aturan demi kepentingannya sendiri.



Seiring waktu, keadaan di peternakan mulai berubah drastis. Prinsip-prinsip yang awalnya mereka pegang mulai dilanggar, dan "Tujuh Perintah" diubah untuk menguntungkan para penguasa baru. Ketidakadilan kembali menyelimuti peternakan, dan hewan-hewan yang dulu bersatu kini terpecah belah. Pada akhirnya mereka menyadari bahwa mereka telah kembali terperangkap dalam penindasan, namun kali ini dengan wajah yang berbeda, bukan lagi Manusia melainkan para babi dan beberapa hewan yang sederajat dibawahnya.



Ada satu momen di dalam buku ini yang menjadi Favorit saya, yaitu ketika para hewan mengintip dari arah luar gedung tempat para babi dan manusia bertemu, mereka menatap dari babi ke manusia, dari manusia ke babi,silih berganti;tetapi mustahil mereka memastikan yang mana babi dan yang mana manusia. Ini artinya ketika kekuasaan tidak diawasi, pemimpin yang awalnya memperjuangkan kebebasan bisa berubah menjadi penindas itu sendiri. Dalam konteks ini, babi yang awalnya berjuang untuk kesetaraan kini berperilaku sama seperti manusia yang mereka gulingkan sebelumnya yaitu Mr. Jones. Ini menggambarkan bagaimana ideologi bisa disalahgunakan dan bagaimana kekuasaan dapat mengubah sifat seseorang, sehingga sulit untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk.



Dalam buku ini Orwell mengingatkan kita bahwa ketika kekuasaan tidak diawasi, idealisme bisa cepat berubah menjadi tirani. "Animal Farm" adalah panggilan untuk kita semua agar tetap waspada dan berjuang demi keadilan, supaya suara rakyat tidak pernah terpinggirkan.



Penulis: Banala

Resensi Buku Animal Farm; Tirani dalam Balutan Revolusi Resensi Buku Animal Farm; Tirani dalam Balutan Revolusi Reviewed by Silo Langi on 3/23/2025 04:53:00 PM Rating: 5

No comments: